TUJUAN MEMELIHARA AYAM HUTAN

Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Mas Ali Gong di Grup fb APAHI;

Berapa banyak org yg ingin memelihara Ayam Hutan Hijau? Apa motif dari keinginan tersebut? Sekali lagi mari kita renungkan! 🙂

Menjawab pertanyaan itu, ada 3 kemungkinan jawaban yang bisa kita berikan. Pertama, Ayam Hutan Hijau sebagai Ayam Hias. Keindahan tampilan fisik, terutama pada warna bulu yang berkilat dan nampak seperti sisik naga, jengger yang bulat tak bergerigi dan pialnya/gelambir yang hanya 1 buah dengan warnanya yang khas karena mirip warna pelangi serta suara kokoknya yang khas, maka tak salah jika AHH (Ayam Hutan Hijau) dijadikan sebagai salah satu pilihan utama sebagai ayam hias. Ayam Hutan Hijau ini akan menjadi daya tarik tersendiri saat nangkring di halaman rumah kita. Mengapa? Karena banyak masyarakat umum yang belum begitu mengenal salah satu endemik negara kita ini.


Jika benar bahwa kita memelihara AHH sebagai Ayam Hias, maka yang diperlukan adalah AHH yang wutuh (tidak cacat), jinak, jengger berdiri tegak serta rajin berkokok. AHH akan memperdengarkan suara kokoknya terutama di pagi dan sore hari. Namun tidak menutup kemungkinan AHH akan berkokok setiap saat. Bahkan di tengah malam pun AHH kadangkala mengeluarkan suara “Cekikrek”nya yang keras luar biasa membahana.

Kemungkinan kedua, sebagai bahan untuk mencetak bekisar. Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Entah rahasia apa yang disimpanNya, bahwa AHH hanya ada di Indonesia. Pun AHH hanya bisa menurunkan bekisar dengan suara kokok yang khas “Oooiingg..” hanya jika disilangkan dengan ayam ras khas Negara Indonesia (Ayam wareng, Ayam Cemani, Ayam Kekok, dlll). Memang AHH bisa juga disilangkan dengan ayam jenis lain, namun tak akan bisa mengeluarkan kokok sebagaimana halnya jika dikawinkan dengan ayam ras Indonesia. Paling banter hanya akan memberikan keturunan dengan tampilan yang memiliki keindahan tersendiri.

Mencetak bekisar adalah peluang usaha yang sangat prospektif. Selain harga bekisar masih bisa dikatakan cukup tinggi, hingga saat ini belum banyak yang bisa mengawinkan AHH dengan ayam ras hingga memberikan keturunan berupa bekisar. Tak banyak modal yang diperlukan, karena dengan 1 ekor AHH saja sudah bisa untuk mengawini lebih dari 10 ekor ayam betina kampung.

Kemungkinan yang ketiga adalah untuk membudidayakan AHH ori. Pilihan yang ketiga ini, setahu saya, belum banyak yang berhasil melakukannya. Tingkat keliaran AHH terutama AHH betina sungguh tak terperikan. Terlebih lagi jika betina tangkapan atau hasil jaringan. Jika sudah demikian maka kemungkinan untuk mencetak AHH ori bisa mendekati 0 %. He.he..

Namun semenjak banyak bermunculan grup ayam hutan di fb, kelihatannya keinginan untuk membudidayakan AHH ori ini semakin menggelembung saja. Hal itu memang diwacanakan sebagai salah satu langkah pelestarian. Bahwa tak menutup kemungkinan stok AHH di hutan akan semakin menipis atau bahkan habis sama sekali. Karenanya penangkaran AHH di rumah-rumah penduduk adalah salah satu alternatif pelestarian secara ex-situ.

Oh, iya. Masih ada satu kemungkinan jawaban lagi, yaitu menjadikan AHH sebagai komoditi atau barang dagangan. Kita membeli AHH lalu memelihara dan merawatnya selama sekian waktu dan setelah meningkat prosentase kejinakannya dan semakin menarik tampilannya pada akhirnya kita jual kembali. Yang seperti inilah yang biasa kita kenal dengan istilah Kolekdol (Koleksi dan akhirnya didol/dijual kembali). Biasanya hal ini ditempuh oleh para anggota 4L (Loe Lagie Loe Lagie). hahaha…

Sekian,
Salam Pelestarian.

Tulisan ini dipublikasikan di Ayam Hutan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan